Mengenal Ambivert, Sisi Tengah dari Extrovert dan Introvert

Mungkin kita sering kali mendengar bahwa seseorang mendiagnosa dirinya sebagai seorang Extrovert atau bahkan Introvert. Hal ini sering kali dikatikan dengan sebuah sikap atau sifat seseorang mengenai hal tersebut. Ntah karena memang mereka merasa seperti itu, atau hanya sebuah pengakuan saja tanpa mengetahui hal ini lebih dalam lagi?

Nah, kali ini kita akan menguak lebih dalam mengenai, apa itu extrovert, introvert dan juga ambivert.

Sebenarnya, Extrovert, Introvert, atau bahkan Ambivert, adalah sebuah cara atau self charging daripada manusia itu sendiri. Kita bisa mengumpamakan hal ini dengan smartphone yang kita miliki. Ketika daya baterai nya habis, ada beberapa smartphone yang menggunakan Charger untuk mengisi daya, ada yang menggunakan charger desktop untuk mengisi daya, ataupun menggunakan Power bank untuk mengisi daya.

Sama seperti manusia. Terkadang mereka sering kali mengalami masa-masa struggle atau bahkan masa-masa down mereka masing-masing. Tentunya untuk mengatasi hal ini, mereka memiliki cara masing-masing untuk bisa kembali pulih.

Apa itu Extrovert, Introvert dan Ambivert?

Nah, kali ini kita akan membahas satu persatu dari macam macam Self Charging yang sering disalah artikan sebagai ‘sifat’ bagi sebagian orang.

Extrovert

Adalah sebuah cara seseorang untuk kembali pulih dari masa Down nya dengan cara berkumpul atau bahkan berinteraksi dengan orang banyak.

Extrovert cenderung memiliki sikap atau perilaku yang aktif, mudah bergaul, dan juga mudah untuk mendapatkan perhatian dari circle baru di sekitarnya. Mereka senang dengan keramaian atau bahkan kondisi ramai.

Introvert

Introvert sendiri adalah salah kebalikan dari Extrovert. Mereka lebih suka menutup diri untuk kembali pulih dari masa-masa sulit mereka.

Orang-orang dengan self charging tipe Introvert ini sebenarnya bukan menutup diri, melainkan lebih kepada butuh waktu untuk sendiri, dan hanya akan membagikan ceritanya kepada orang yang mereka percaya atau bahkan orang terdekat mereka.

Mereka yang di sebut sebagai Introvert ini bukan tidak suka bergaul, mereka sangat suka bergaul, hanya saja tidak dengan kapasitas manusia yang banyak. Mereka butuh beberapa orang saja yang mereka percaya dan orang terdekat mereka. Dan orang orang dengan kebutuhan self charging tipe Introvert ini tidak menyukai sesuatu yang ramai, berisik, dan juga terlalu gaduh. Mereka cenderung membutuhkan ketenangan untuk bisa lebih fokus dalam suatu hal.

Ambivert

Nah, kita masuk kedalam poin penting dari pembahasan kita, yakni Ambivert. Berbeda dengan Introvert, Ambivert adalah pertemuan titik tengah atau percampuran antara Extrovert dan Introvert. Bisa digambarkan sebagai sebagian kanannya adalah introvert, dan bagian kiri nya adalah extrovert.

Manusia dengan self charging Ambivert lebih mengarah ke orang yang mood swing atau mudah berubah pada mood nya. Mereka bisa sangat ingin sendiri saja, iya, hanya sendiri atau dengan 1 – 2 orang saja yang mana orang tersebut merupakan orang yang dipilih, bukan menawarakan diri.

Tapi terkadang juga, mereka akan merasakan kesepian, dan butuh di temani oleh banyak orang. Namun tak jarang juga, ketika berada di dalam sebuah keramaian, manusia dengan kebutuhan self charging tipe Ambivert ini akan menghindar menjauh, dan mencari ketenangannya sendiri.

 

Apakah Introvert tidak bisa menjadi Extrovert dan Sebaliknya?

Tidak menutup kemungkinan. Semua itu hanyalah sebuah self charging bagi sebagian orang. Cara ini tidak bisa diakusisi oleh hanya perseorangan saja. Mereka bisa bisa berubah menjadi seorang yang tertutup, sekalipun awalnya mereka terkenal supel dan terbuka.

Atau bahkan sebaliknya. Mereka yang tertutup pun bisa menjadi orang yang sangat Supel dan terbuka kepada orang banyak. Semua kembali lagi kepada bagaimana mereka nyaman dengan Self Charging mereka masing-masing.

 

Akhir Kata

Bisa kita tarik kesimpulan sederhana dari sini. Ambivert, Extrovert, ataupun Introvert, ketiga hal tersebut bukanlah sifat seseorang. Namun, ketiga hal tersebut adalah bagaimana cara mereka memperbaiki kondisi mereka ketika sedang berada di dalam titik ter-rendah mereka didalam kehidupan.

Written By

Riko Sulaiman